Hadist tentang Riba

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

{الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [البقرة: 275]

Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(TQS. Albaqarah : 275)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم آيَةُ الرِّبَا‏.‏

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata : Akhir ayat yang turun kepada Nabi ﷺ adalah ayat riba (Bukhari : 4544)

2.     «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ: أَيْ الْمُهْلِكَاتِ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاَللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالُ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ»

“Jauhilah oleh kalian tujuh yang membinasakan, sahabat bertanya : ya rasulallah, apakah yang 7 itu ?, rasulullah bersabda : menyekutukan terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta yatim, kabur dari pertempuran, menuduh zina wanita baik-baik yang beriman yang tidak melakukan zina” (Bukhari no.2766/6857, Muslim no.89, Abu Dawud : 2874/2875, Nasai : 3671)

Syarah hadist dan Fiqhul hadist

Riba adalah salah satu dosa besar, Riba scr bahasa : tambahan (ziyadah)

Riba menurut istilah syariah :

الربا هو كل زيادة لأحد المتعاقدين في عقد المعاوضة من غير مقابل أو هو الزيادة في مقابل الأجل

Riba adalah setiap tambahan bagi salah satu pihak yang berakad dalam akad pertukaran tanpa ada pengganti, atau riba adalah tambahan  sebagai pengganti dari waktu.

(Abdul Aziz al-Khayyath, Asy-Syarikat fi Asy Syari’ah Al Islamiyyah wa Al Qanun Al Wadh’i, 2/168)

Definisi riba tersebut mencakup dua macam riba, yaitu riba fadhl (Terjadi dalam jual beli) dan riba nasi`ah (Utang Piutang)

3.     «أَرْبَعٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُدْخِلَهُمْ الْجَنَّةَ وَلَا يُذِيقَهُمْ نَعِيمَهَا: مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَآكِلُ الرِّبَا، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيمِ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ»

“ Empat orang yang hak bagi Allah untuk tidak memasukan mereka ke surga, dan tidak memberikan kenikmatan surga : pecandu khamr, pemakan riba, pemakan harta yatim dengan bukan hak, dan orang yang menyakiti terhadap kedua orangtuanya. (Syu’abul iman lilbaihaqi : 1847)

Syarah dan fiqhul hadist

Status Hadist ini dhaif secara sanad karena ada perawi yang diperselisihkan ketsiqahanya dan dijarh oleh mayoritas ulama hadits yaitu إبراهيم بن خثيم بن عراك بن مالك. Jumhur Ulama Hadist berpendapat boleh mngamallkan hadist dhaif dalam perkara fadhail dan targhib tarhib selama tidak dinillai berat kedhaifannya. Jumhur ulama berpendapat tidak boleh menjadikan hadist dhaif sebagai hujjah atas hukum kecuali pandangan Imam Ahmad dan Abu Dawud membolehkan jika tidak ada atsar lain.

عَنْ عِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: ” أَلَا تَجِيءُ فَأُطْعِمَكَ سَوِيقًا وَتَمْرًا وَتَدْخُلَ فِي بَيْتٍ “، ثُمَّ قَالَ: ” إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلَا تَأْخُذْهُ، فَإِنَّهُ رِبًا ”

“Dari Sa’id bin Abi Burdah dari bapaknya, dia berkata: ‘aku mengunjungi Madinah lalu bertemu dengan ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: ‘tidakkah engkau mengunjungiku, akan aku suguhkan makanan dari tepung dan kurma, dan kamu masuk ke dalam rumah? Kemudian dia berkata: ‘sesungguhnya engkau berada pada suatu negeri (irak) dimana riba tersebar, jika engkau memiliki hak (piutang) atas seseorang, kemudian orang itu menghadiahkan sepikul jerami, atau sepikul sya’ir (di Indonesia dikenal dengan jewawut), atau sepikul makanan ternak, maka janganlah engkau mengambilnya, karena itu adalah riba  (Bukhari : 3814).

Syarah hadist :

Di dalam Fathul Bari VII/131, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan makna lafadz “فَإِنَّهُ رِبًا” (karena itu adalah riba) sebagai berikut:

قَوْلُهُ (فَإِنَّهُ رِبًا) يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَأَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ, وَ إِلَّا فَالْفُقَهَاءَ عَلَى أَنَّهُ إِنَّمَا يَكُوْنَ رِبَا إِذَا شَرَطَهُ, نَعَمْ الْوَرْعُ تَرْكُهُ

“Perkataannya (karena itu adalah riba) adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Salam, dan para fuqaha berpendapat bahwa itu adalah riba jika mensyaratkannya, benar bahwa jika meninggalkannya adalah lebih selamat.”

رَوَى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ (سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الذهب بالذهب والفضة بالفضة والتمر بالتمر والبر والبر والشعير بالشعير والملح بالملح الا سواء بسواء عينا بعين فمن زاد أو استزاد فقد أربى

“Rasulullah melarang menjual emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, garam dengan garam kecuali sama kwalitas dan kwantitas, maka siapa yang menambah atau meminta tambah maka sungguh telah melakukan riba (Muslim : 1587)

Syarah Hadist

Para ulama telah menyepakati bahwa keenam komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk komoditi ribawi. Sehingga enam komoditi tersebut boleh diperjualbelikan dengan cara barter asalkan memenuhi syarat. Bila barter dilakukan antara komoditi yang sama -misalnya kurma dengan kurma, emas dengan emas, gandum dengan gandum-, maka akad tersebut harus memenuhi dua persyaratan.

Persyaratan pertama, transaksi harus dilakukan secara kontan (tunai). Sehingga penyerahan barang yang dibarterkan harus dilakukan pada saat terjadi akad transaksi dan tidak boleh ditunda seusai akad atau setelah kedua belah pihak yang mengadakan akad barter berpisah, walaupun hanya sejenak.

Persyaratan kedua, barang yang menjadi objek barter harus sama jumlah dan takarannya.

6.     «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ»

“Rasulullah melaknat pemakan riba, wakilnya,pencatatnya dan kedua saksinya, kemudian bersabda mereka sama (Muslim : 1598, Abu Dawud : 3333,  Tirmizi : 1206, Ibnu Majah : 2277)

Syarah Hadist

Rasulullah melaknat semua yang terlibat dalam transaksi ribawi. Dan dalam hadist ini adalah pengharaman menolong atas kebatilan

7.     «دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زنْيَةً»

“Dirham riba yang memakannya seseorang dan dia tahu, itu lebih berat dari 36 zina (Ahmad : 21957)

Syarah dan Fiqih Hadist

Hadist ini hasan, ada ikhtilat ulama hadist dalam menilai salah satu perawi hadist ini yaitu جرير بن حازم بن زيد بن عبد الله بن شجاع

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ (أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَخَا بَنِي عَدِيٍّ الْأَنْصَارِيَّ فَاسْتَعْمَلَهُ على خيبر فقدم بتمر جنيب فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أكل تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا قَالَ لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّا لَنَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنْ الْجَمْعِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَفْعَلُوا وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا قِيمَتَهُ مِنْ هَذَا وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Bahwa Rasulullah ﷺ mengutus saudara bani ‘Ady alanshary, kemudian memperkerjannya atas tanah khaibar, kemudian dia menghadap membawa  kurma janib, kemudian rasulullah ﷺ bersabda kepadanya : apakah semua kurma khaibar seperti ini ?, sahabat berkata : Tidak, demi allah ya rasulallah, sebenarnya kami membeli satu sha’ dengan dua sha’ dari yang terkumpul. Kemudian rasulullah ﷺ bersabda : jangan lakukan seperti itu, tetapi harus sama, atau jualah oleh kalian ini, dan belilah harganya dari ini (hasil menjual) dan begitulah timbangan”(Bukhari : 7350/7351, Muslim : 1593/2619)

Syarah dan fiqhul hadist

Tidak boleh menjual barang ribawi sejenis kecuali harus sama kualitas dan kuantitasnya serta harus kontan. Cara yang bisa kita lakukan untuk menhindari transaksi ribawi dangan menjual terlebih dahulu dengan yang lain, kemudian baru kita membeli dengan hasil yang kita jual dengan harga yang pantas

9.     «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ، وَنَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ»

“Rasulullah ﷺ melaknat yang mentato dan yang meminta ditato, pemakan riba dan wakilnya, dan melarang dari laba anjing dan pekerjaan pelacur, dan melaknat pembuat bentuk (patung) (dirangkum dari beberapa hadist dalam Bukhari & Abu Dawud)

10. «خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَ أَمْرَ الرِّبَا وَعِظَمِ شَأْنِهِ وَقَالَ: إنَّ الدِّرْهَمَ يُصِيبُهُ الرَّجُلُ مِنْ الرِّبَا أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ فِي الْخَطِيئَةِ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً يَزْنِيَهَا الرَّجُلُ وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ»

“Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami kemudian menuturkan perkara riba dan dahsyatnya perkara riba, dan rasulullah bersabda : “sesungguhnya dirham yang menimpanya seseorang dari riba lebih dahsyat di sisi Allah dalan kesalahan daripada 33 zina yang dia lakukan, dan sesungguhnya paling ribanya riba adalah merendahkan kehormatan seorang yang muslim (Ibnu Abu Dunia dan Baihaqi)

رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي، فَأَخْرَجَانِي إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ، وَعَلَى وَسَطِ النَّهْرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا

“Nabi (ﷺ) berkata, “Malam ini saya bermimpi bahwa dua pria datang dan membawa saya ke tanah suci dimana kami melanjutkan sampai kami mencapai sungai darah, di mana seorang pria berdiri, dan di tepinya berdiri pria lain dengan batu di tangannya. Pria di tengah sungai mencoba untuk keluar, tetapi yang lain melemparkan batu ke mulutnya dan memaksanya untuk kembali ke tempat asalnya. Jadi, setiap kali dia mencoba untuk keluar, pria lain akan melempar batu ke mulutnya dan memaksanya untuk kembali ke tempat asalnya. Saya bertanya, “Siapa ini?” Saya diberi tahu, ‘Orang di sungai adalah pemakan Riba.”(Bukhari : 1386/2085, Sunan Kubra lilbahaqy 5:275)”

12. «إيَّاكَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لَا تُغْفَرُ الْغُلُولُ فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ، ثُمَّ قَرَأَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: {الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ} [البقرة: 275] » 

“Jauhilah olehmu dosa yang tidak diampuni, Gulul (memakan harta yang harus dibagikan) maka barangsiapa yang ghulul sedikitpun akan datang dengannya di hari kiamat, memakan riba maka barangsiapa yang memakan riba akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan gila kesurupan, kemudian rasulullah membaca ayat …(albaqarah:275) (HR. Thabran [Mu’jam Alkabir : 14555]’ Alkhatib [Tarikh Baghdad:2697])

Hadist dhaif secara sanad,

13. «مَا أَحَدٌ أَكْثر مِنْ الرِّبَا إلَّا كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إلَى قِلَّةٍ»

“Tidaklah seseorang memperbnyak dari harta riba, kecuali dampak urusannya kepada sedikit” (Ahmad : 4026, Ibnu Majah : 2279) Hadist Shahih

Syarah Hadist

Harta yang dikumpulkan dari riba walaupun hasilnya banyak, akhirnya akan sedikit, tidak bermanfaat

عَنْ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  ﷺ يَقُولُ: ” الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةَ مِثْلا بِمِثْلٍ، الزَّائِدُ وَالْمُسْتَزِيدُ فِي النَّار

Emas dengan emas, perak dengan perak, harus sama, yang menambah dan minta tambah di neraka” (HR. Albazzar [bahruzzihaf:15/55], Almawarzy [Musnad Abu Bakar : 34], Mushannaf Ibnu Abi Syaibah :3145) Hasan Lighairih

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٍ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا أَكَلَ الرِّبَا» . قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّهُمْ يَأْكُلُونَ الرِّبَا؟ قَالَ: «مَنْ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ يُصِيبُهُ مِنْ غُبَارِهِ

“Akan datang pada manusia suatu masa tidak tersisa seseorang kecuali memakan riba, dikatakan: ya rasulullah mereka semua memakan riba ? rasul menjawab : yang tidak memakan darinya akan terkena debunya”(Abu Dawud : 3331, Nasai : 4455, Ibnu Majah : 2278, Ahmad : 10410)  Hadist dhaif

          Syarah Hadist

          Semua orang pada masa itu terkena riba, tidak ada yang tidak terkena. Yang tidak memakannya pun akan terkena debu dosanya,  debu dari dosa riba itu bermaksud sampai kepadanya bekas-bekas riba, dan menyaksikan akad riba, ridha atas hal tersebut, menulis, memakan dari bertamu kepada pemakan riba, atau hadiah dari pemakan riba. Kita sedang berada di zaman tersebut. Kita memohon kepada Allah semoga melindingi kita dan mengampuni dosa-dosa baik sadar maupun yang tidak terasa.

16. ” لُعِنَ آكِلُ الرِّبَا وَمُؤْكِلُهُ، وَكَاتِبُهُ، وَشَاهِدَاهُ، إِذَا عَلِمُوا بِهِ، وَالْوَاشِمَةُ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ لِلْحُسْنِ، وَلَاوِي الصَّدَقَةِ، وَالْمُرْتَدُّ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ، مَلْعُونٌ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

“Dilaknat pemakan riba, wakilnya, pencatatnya, dan 2 saksinya apabila mereka tahu terhadapnya, dilaknat yang mentato dan yang minta ditato supaya baik, pembelok sedekah (yang mencegah zakat), Orang murtad bangsa arab setelah hijrahnya, dilaknat atas lisan Muhammad ﷺ pada hari kiamat” (Annasa’i : 5102, Ahmad : 3881/4090/4428) Hadist Shahih

وَأَبُو يَعْلَى بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ ذَكَرَ حَدِيثًا عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فِيهِ: «مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الزِّنَا وَالرِّبَا إلَّا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ» 

“Tidaklah dhahir/marak di kaum zina dan riba, kecuali mereka menghalalkan atas dirinya azab Allah (Musnad Abu Ya’la : 1266) Hadist Hasan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ “

“Riba itu 70 dosa, yang paling ringannya, menikahi seseorang terhadap ibunya” (Ibnu Majah : 2274) Hadist Shahih

Syarah Hadist

Hadist ini menunjukan bahwa dosa riba itu lebih besar dari dosa zina.

إِنَّ الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَدْنَاهَا مِثْلُ مَا يَقَعُ الرَّجُلُ عَلَى أُمِّهِ، وَأَرْبَى الرِّبَا اسْتِطَالَةُ الْمَرْءِ فِي عِرْضِ أَخِيهِ “

Riba itu 70 dosa, yang paling ringannya, menikahi seseorang terhadap ibunya, dan dosa riba yang paling riba mencemarkan seseorang terhadap kehormatan saudara”(Mu’jam alausath litthabrani :2208, syuabul iman lilbaihaqi : 5521, Ibnu Abi Dunia) sanadnya lemah

مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الرِّبَا وَالزِّنَا، إِلَّا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللَّهِ “

“Tidaklah dhaihir/nampak di suatu kaum riba dan zina kecuali mereka telah menghalalkan atas diri mereka siksa Allah azza wa jalla”(Ahmad : 3809, Shahih lighairih)

21. ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا لِمَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يُسْلِمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ، وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ ” قِيلَ: وَمَا بَوَائِقُهُ؟ قَالَ: ” غَشْمُهُ وَظُلْمُهُ ” قَالَ: وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا يَكْتَسِبُ عَبْدٌ مَالَ حَرَامٍ فَيَتَصَدَّقُ فَيُنْفِقُ فَيُبَارَكُ لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ فَيُقْبَلُ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ، إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمْحُو السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ، وَلَا يَمْحُوا السَّيِّئَ إِلَّا بِالْحَسَنِ، إِنَّ الْخَبِيثَ لَا يَمْحُو الْخَبِيثَ “

Dari abdullah bin masud radhiallahu anhu, dari rasulillah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya Allah membagi tabiat-tabiat kalian sebagaimana membagi rizki kalian, sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada yang suka dan tidak suka, dan Allah tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang suka, maka siapa orang yang telah memberikan Allah kepadanya agama maka sungguh Allah menyukainya. Demi zat yang diriku dalam genggamannya, tidaklah berislam seorang hamba sehingga memasrahkan hati dan lisannya, tidaklah beriman sampai merasa aman tetangganya dari kejelekannya, rasulullah ditanya : apa kejelekannya ? Rasul bersabda : keserampanganya dan kedhalimannya,”. Dan abdullah bin masud berkata, telah bersabda rasulullah ﷺ : “Tidaklah mengusahakan seorang hamba terhadap harta dari yang haram kemudian bersedekah dengan harta tersebut, maka tidak dibalas atasnya, tidak berinfaq darinya, kemudian tidak diberkahi didalamnya, dan tidak meninggalkan di belakang punggungnya kecuali terbukti bertambahnya kepada neraka, sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala, tidak menghapus kesalahan dengan kesalahan, dan tidak menghapus kesalahan kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya keburukan tidak menghapus keburukan (Ahmad : 3672 [Sanadnya lemah])

22. ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ” إِذَا أَقْرَضْتَ قَرْضًا لِأَخِيكَ فَلَا تَرْكَبْ دَابَّتَهُ، وَلَا تَقْبَلْ هَدِيَّتَهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَدْ جَرَتْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ مُخَالَطَةٌ قَبْلَ ذَلِكَ”

Dari Anas radhiallahu anhu : “Apabila meminjamkan kamu pinjam kepada saudaramu maka jangan naik tunggangannya, dan jangan menerima hadiahnya, kecuali telah berjalan antara kamu dan dia, kebiasaan sebelum itu (Syuabul iman lilbaihaqy : 1848) Hadist Mauquf  shahih secara sanad

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ صَاحِبِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: ” كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً، فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوهِ الرِّبَا “، مَوْقُوفٌ

 “Setiap pinjaman yang berjalan atasnya manfaat maka itu satu bentuk dari bentuk riba” (Sunan Kubra lilbaihaqy : 3928) Hadist Mauquf

Syarah hadist dan Fiqhul hadist

Saya menemukan banyak hadist terkait setiap riba yang berjalan atasnya manfaat maka itu riba, hadist tersebut semua mauquf disandarkan kepada Abdullah bin masud  dan Ali radhiallahu anhum, semua sanadnya lemah.

Mazhab abu hanifah dalam kaul yang rajih menurut mereka riba terjadi apabila mensyaratkan manfaat tersebut. Malikiyah berpendapat haram apabila sebelumnya tidak terjadi kebiasaan seperti itu. Syafiiyyah dan Hanabilah berpendapat, tidak boleh pinjaman berjalan atasnya manfaat berdasarkan hadist نهى عن سلف وبيع rasulullah melarang salaf dengan jual beli, salaf dalam nahasa hijaz bermakna pinjaman.

” الرِّبَا فِي النَّسِيئَةِ “.

Riba terjadi didalam utang-piutang/penundaan pembayaran (Bukhari:2178, Muslim:1597,Tirmizi:1241,Nasai:4580/4581, Ibnu Majah:2257, Ahmad:21750/21762/21778/21796/21817)

Syarah dan fiqhulhadist

Riba terjadi pada jual beli dan utang piutang. Dalam transaksi sejenis dari barang ribawi yang telah disebutkan sebelumnya dan barang yang memiliki fungsi yang sama dengannya, apabila menjualnya dengan barang sejenis disyaratkan sama kualitas, kwantitas dan harus kontan, apabila berbeda namun dari jenis barang ribawi yang berbeda maka hanya disyaratkan kontan. Apabila tidak kontan maka terjadilah riba.

Dalam pinjaman, penambahan atas pinjaman adalah riba, dalil alquran menjadi landasan yang mendasarinya. Tambahan sebagai pengganti atas tempo ini haram hukumnya. Kemudian terjadi hailah di zaman modern ini mengatasnamakan ijarah, hailah ini bathil. Naudzu billah min zalik.

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ – هُوَ ابْنُ سَلَّامٍ – عَنْ يَحْيَى ، قَالَ : سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَبْدِ الْغَافِرِ ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ بِلَالٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ بَرْنِيٍّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مِنْ أَيْنَ هَذَا ؟ ” قَالَ بِلَالٌ : كَانَ عِنْدَنَا تَمْرٌ رَدِيٌّ، فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ ؛ لِنُطْعِمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ : ” أَوَّهْ أَوَّهْ، عَيْنُ الرِّبَا، عَيْنُ الرِّبَا، لَا تَفْعَلْ، وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِيَ فَبِعِ التَّمْرَ بِبَيْعٍ آخَرَ ثُمَّ اشْتَرِهِ

Bilal datang kepada nabi ﷺ membawa kurma bagus, kemudian nabi ﷺ bersabda : darimana ini ? bilal menjawab : saya memiliki kurma yang jelek, kemudian aku menjual 2 sha dengan satu sha, supaya kami bisa membagi makanan kepada nabi ﷺ, Ketika itu nabi ﷺ bersabda : Aduh!, aduh!,  barang riba, itu barang riba, jangan kamu lakukan itu, tetapi jka kamu mau membelinya, jual dulu dengan yang lain, lalu kamu membelinya (dari hasil menjual) (Bukhari:2312,Muslim:1594,Nasai:4557, Ahmad:11595)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا “.

Jika seseorang melakukan dua transaksi yang digabungkan dalam satu tawar-menawar, ia harus memiliki yang lebih rendah dari keduanya atau itu akan melibatkan riba. (Abu dawud:3461, Shahi Ibnu Hibban:5082, Mustadrak alashahihain : 2229)

Syarah hadist

Tawar menawar dua akad dalam satu transaksi seperti contoh : saya jual baju ini 5000 kalo kontan, kalo hutang saya jual 1000, kamu mau pilih yang mana silahkan. Nah dalam kasus tadi ini melibatkan riba.

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ : قَالَ يَهُودِيٌّ لِصَاحِبِهِ : اذْهَبْ بِنَا إِلَى هَذَا النَّبِيِّ. فَقَالَ صَاحِبُهُ : لَا تَقُلْ نَبِيٌّ، إِنَّهُ لَوْ سَمِعَكَ كَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَعْيُنٍ . فَأَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَاهُ عَنْ تِسْعِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ، فَقَالَ لَهُمْ : ” لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقُوا، وَلَا تَزْنُوا، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَلَا تَمْشُوا بِبَرِيءٍ إِلَى ذِي سُلْطَانٍ لِيَقْتُلَهُ، وَلَا تَسْحَرُوا، وَلَا تَأْكُلُواالرِّبَا، وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً، وَلَا تُوَلُّوا الْفِرَارَ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَعَلَيْكُمْ خَاصَّةً الْيَهُودَ أَنْ لَا تَعْتَدُوا فِي السَّبْتِ “. قَالَ : فَقَبَّلُوا يَدَهُ وَرِجْلَهُ، فَقَالَا : نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ. قَالَ : ” فَمَا يَمْنَعُكُمْ أَنْ تَتَّبِعُونِي “. قَالُوا : إِنَّ دَاوُدَ دَعَا رَبَّهُ أَنْ لَا يَزَالَ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ، وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ تَبِعْنَاكَ أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُ. وَفِي الْبَابِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ، وَابْنِ عُمَرَ، وَكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari shafwan bin assal berkata : seorang yahudi berkata kepada temannya : pergilah dengan ini kepada nabi ini. Kemudian sahabatnya berkata : jangan katakan nabi, sungguh bagaimana kalo dia mendengarmu, dia memliki 40 mata-mata. Kemudian 2 orang itu datang kepada nabi dan bertanya tentang 9 ayat yang jelas, rasul bersabda : Jangan menyekutukan Allah dengan apapun, jangan berjalan dengan berlepas diri kepada pemilik kekuasaan untuk membunuhnya, jangan melakukan sihir, jangan memakan riba, jangan menuduh zina wanita yang baik-baik, jangan kabur dari pertempuran, dan khusus bagi kalian orang yahudi jangan melanggar hari sabtu,” kemudian mereka menghadapkan tangan dan kakinya dan berkata :”Kami bersaksi bahwa engkau nabi,” rasul bersabda : lalu apa yang mencegah kalian untuk mengikutiku?” Mereka berkata : sesungguhnya daud telah berdoa kepada tuhannya sepaya tidak berhenti dari keturunanya nabi. Dan sesungguhnya kami takut jika kami mengikutimu orang yahudi akan membunuh kami (Tirmizi:2733/3144, Nasai:4078, Ahmad:18092) Hadist Hasan Shahih menurut imam Attirmizy

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَبِيعُوا الدِّينَارَ بِالدِّينَارَيْنِ، وَلَا الدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمَيْنِ، وَلَا الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ ؛ فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرَّمَاءَ ” – وَالرَّمَاءُ : هُوَ الرِّبَا – فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَبِيعُ الْفَرَسَ بِالْأَفْرَاسِ، وَالنَّجِيبَةَ بِالْإِبِلِ ؟ قَالَ : ” لَا بَأْسَ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “.

Jangan menjual satu dinar dengan dua dinar, dan jangan menjual satu dirham dengan dua dirham, dan jangan menjual satu sha dengan dua sha, sesungguhnya aku takut atas kalian riba,” kemudian bediri seseorang dan bertanya : ya rasulullah bagaimana menurutmu jika seseorang menjual satu kuda dengan beberapa kuda, Najibah dengan ibil?” Rasul bersabda :”Tidak apa-apa apabila kontan” (Muwattah Malik : 1849, Ahmad:5855/11006) Hadist Shahih

Syarah dan fiqhul hadist

Transaksi dalam barang sejenis yang bukan barang ribawi disyaratkan harus kontan

عَنْزَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ ، عَنْ جَدِّهِ ، قَالَ : كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ : أَنْ عَلِّمِ النَّاسَ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَجَمَعَهُمْ فَقَالَ : إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ثُمَّ قَالَ : ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ “. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ؟ قَالَ : ” بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ يَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Sesungguhnya para pedagang itu para pendurhaka” Sahabat betanya :”Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli dan riba?” Rasul menjawab : “Tentu, tetapi mereka berbicara kemudian berdusta, bersumpah dan melakukan dosa” (Ahmad :15530/15666/15669) Hadist Shahih

Syarah Hadist

Sebagai seorang pedagang atau pengusaha hendaknya kita mengetahui terhadap hukum-hukum Allah yang berkait dengan muamalah, supaya kita tidak terjerembab dalam dosa dan kesalahan. Dan apa yang kita usahakan selain mendapat kebaikan di dunia tapi juga menjadi ladang amal di akhirat

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَيَبِيتَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى أَشَرٍ وَبَطَرٍ وَلَعِبٍ وَلَهْوٍ، فَيُصْبِحُوا قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ بِاسْتِحْلَالِهِمُ الْمَحَارِمَ وَاتِّخَاذِهِمُ الْقَيْنَاتِ ، وَشُرْبِهِمُ الْخَمْرَ، وَأَكْلِهِمُ الرِّبَا، وَلُبْسِهِمُ الْحَرِيرَ “

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, dar rasulillah ﷺ bersabda : Demi zat yang diri muhammad di tangannya, kelak pasti akan datang manusia dari umatku berada di atas kesombongan, permainan dan gurauan. Kemudian mereka menjadi kera dan babi karen menghalalkannya mereka terhadap keharaman-keharaman, mereka membuat biduan-biduan, minuman-minuman mereka khamr, mereka memakan riba, dan memakai sutra (Ahmad : 22790) Hadist ini dhaif sanadnya

31. ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ : ” مَا مِنْ قَوْمٍ يَظْهَرُ فِيهِمُ الرِّبَا إِلَّا أُخِذُوا بِالسَّنَةِ ، وَمَا مِنْ قَوْمٍ يَظْهَرُ فِيهِمُ الرُّشَا إِلَّا أُخِذُوا بِالرُّعْبِ “.

“Tidaklah dari suatu kaum dhahir/marak pada mereka riba kecuali akan ditimpa kemarau, dan tidaklah di suatu kaum dhahir/marak pada mereka suap kecuali akan ditimpa teror/ketakutan (Ahmad : 17822) Sanadnya lemah

وَحَدَّثَنِي مَالِك، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ الرِّبَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ : أَنْ يَكُونَ لِلرَّجُلِ عَلَى الرَّجُلِ الْحَقُّ إِلَى أَجَلٍ، فَإِذَا حَلَّ الْأَجَلُ ؛ قَالَ : أَتَقْضِي أَمْ تُرْبِي ؟ فَإِنْ قَضَى ؛ أَخَذَ، وَإِلَّا زَادَهُ فِي حَقِّهِ، وَأَخَّرَ عَنْهُ فِي الْأَجَلِ

“Dari zaid bin aslam bahwa dia berkata : “Riba pada jahiliyyah adalah ada hak seseorang terhadap orang lain sampai tempo, apabila telah mencapai tempo, seseorang berkata : Mau diselasaikan atau ditambahkan? Apabila menunaikan maka mengambil darinya, apabila tidak, menambahkan haqnya, dan mengakhirkan tempo darinya (Muwattha Malik : 1965) Hadist Mauquf shahih sanad

Syarah Hadist

Riba di zaman jahiliyyah di zaman sekarang dikenal dengan denda atas tempo pembayaran. Perkataan zaid bin aslam bahwa riba di zaman jahiliyyah ada seseorang yang menghutangkan ketika masuk tempo kepada yang dihutangkan :”mau dipenuhi/dibayar atau ditambah hutangnya supaya bertambah temponya”. Kaum muslimin telah bersepakat tentang keharaman riba ini. Dari segi makna tindakan itu sama dengan salaf/piutang supaya mendapat manfaat seperti contoh seseorang  10 dinar supaya diganti dengan 20 dinar pada tempo tertentu. Dan ini sepakat atas keharamanya

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا رِبَا فِيمَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “.

Sesungguhnya Rasulullaha ﷺ  bersabda : “tidak ada riba pada transaksi kontan”(Muslim : 1596,Ahmad:21743/21757) Hadist Shahih

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : لَمَّا أُنْزِلَ الْآيَاتُ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي الرِّبَا، خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَرَأَهُنَّ عَلَى النَّاسِ، ثُمَّ حَرَّمَ تِجَارَةَ الْخَمْرِ.

Dari aisyah radhiallahu anha berkata : tatkala turun ayat-ayat dari surat albaqarah tentang riba, Nabi ﷺ keluar ke mesjid kemudian membacakannya kepada manusia, kemudian mengharamkan usaha khamr (Bukhari : 459)

Syarah hadist

Qhadhi ‘Iyadh berkata : telah ada pengharaman khamar sebelum turunnya ayat riba pada masa yang jauh,  ulama menimbang bahawa nabi ﷺ menyampaikan kembali khamar sekali lagi sebagai penguatan,  Ibnu hajar dalam fathulbari menimbang pengharaman usaha khamar lebih akhir dari waktu pengharaman ainnya.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ بِشَفَاعَةٍ، فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا”.

“Barangsiapa yang memberikan syafaat terhadap saudaranya, kemudia dihadiahkan hadiah lalu dia menerimanya maka sungguh dia telah datang kepada pintu yang besar dari pintu-pintu riba”(Abu Dawud :3541, Ahmad : 22251) Hadist Hasan

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الِاسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ “

“Diantara riba yang paling riba adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim yang bukan hak” (Abu Dawud :4876) hadist shahih

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَةَوَالْمُوتَشِمَةَ، وَالْوَاصِلَةَ وَالْمَوْصُولَةَ، وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ، وَالْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

Rasulullah Melaknat yang mentato, yang minta ditato, yang menyambung rambut, yang disambung rambut, yang memakan riba dan wakilnya, al-Muhallil dan al-Muhallal lahu (Nasai : 3416) Hadist Shahih

Syarah hadist

Muhallil adalah laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan tujuan agar perempuan itu dibolehkan menikah kembali dengan suaminya yang pertama yang telah mentalak 3

Muhallal lahu laki-laki yang menyuruh muhallil untuk menikahi bekas isterinya agar isteri tersebut dibolehkan untuk dinikahinya lagi

عَنْ عَلِيٍّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَمَانِعَ الصَّدَقَةِ، وَكَانَ يَنْهَى عَنِ النَّوْحِ. أَرْسَلَهُ ابْنُ عَوْنٍ وَعَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ.

Dari Ali, bahwa rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, wakilnya, penulisnya, pencegah zakat, dan ada rasul melarang menangis berlebihan/meratapi (mayyit) (Nasai : 5103/5104/5105, Ibnu Majah :1580, Ahmad : 660/844/1289/1364) Hadis Shahih

أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ الْأَنْصَارِيَّ النَّقِيبَ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزَا مَعَ مُعَاوِيَةَ أَرْضَ الرُّومِ، فَنَظَرَ إِلَى النَّاسِ وَهُمْ يَتَبَايَعُونَ كِسَرَ الذَّهَبِ بِالدَّنَانِيرِ، وَكِسَرَ الْفِضَّةِ بِالدَّرَاهِمِ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ تَأْكُلُونَ الرِّبَا، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” لَا تَبْتَاعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، لَا زِيَادَةَ بَيْنَهُمَا وَلَا نَظِرَةً “. فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ : يَا أَبَا الْوَلِيدِ، لَا أَرَى الرِّبَا فِي هَذَا إِلَّا مَا كَانَ مِنْ نَظِرَةٍ. فَقَالَ عُبَادَةُ : أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُحَدِّثُنِي عَنْ رَأْيِكَ، لَئِنْ أَخْرَجَنِي اللَّهُ لَا أُسَاكِنُكَ بِأَرْضٍ لَكَ عَلَيَّ فِيهَا إِمْرَةٌ. فَلَمَّا قَفَلَ لَحِقَ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : مَا أَقْدَمَكَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟ فَقَصَّ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ وَمَا قَالَ مِنْ مُسَاكَنَتِهِ. فَقَالَ : ارْجِعْ يَا أَبَا الْوَلِيدِ إِلَى أَرْضِكَ، فَقَبَّحَ اللَّهُ أَرْضًا لَسْتَ فِيهَا وَأَمْثَالُكَ. وَكَتَبَ إِلَى مُعَاوِيَةَ : لَا إِمْرَةَ لَكَ عَلَيْهِ، وَاحْمِلِ النَّاسَ عَلَى مَا قَالَ ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْأَمْرُ.

Ubadah bin Shamit Al-Ansari, kepala unit tentara, Sahabat rasulullah (ﷺ), melakukan kampanye militer dengan Mu’awiyah di tanah Bizantium. Dia melihat orang-orang memperdagangkan keping emas dengan Dinar dan keping perak dengan Dirham. Dia berkata: “Wahai manusia, kamu mengkonsumsi riba (riba)! Karena aku mendengar Rasulullah (ﷺ) berkata: ‘Jangan menjual emas dengan emas kecuali jika sama; tidak boleh ada penambahan dan tidak ada penundaan ( antara dua transaksi). ‘”Mu’awiyah berkata kepadanya:” Wahai Abu Walid, saya tidak berpikir ada Riba yang terlibat dalam hal ini, kecuali dalam kasus di mana ada penundaan. ” ‘Ubadah berkata kepadanya: “Saya memberi tahu Anda sebuah hadis dari Rasulullah (ﷺ) dan Anda memberi tahu pendapat Anda! Jika Allah mengembalikan saya dengan aman, saya tidak akan pernah tinggal di tanah di mana Anda memiliki wewenang atas saya.” Ketika dia kembali, dia tinggal di Al-Madinah, dan ‘Umar bin Khattab berkata kepadanya: “Apa yang membawamu ke sini, wahai Abu Walid?” Jadi dia menceritakan kisah itu, dan apa yang dia katakan tentang tidak tinggal di tanah yang sama dengan Mu’awiyah. ‘Umar berkata: “Kembalilah ke tanahmu, wahai Abu Walid, maka Allah akan memburukan negri yang tidak ada orang serpertimu di sana.” Kemudian dia menulis kepada Mu’awiyah dan berkata: “Kamu tidak memiliki wewenang atas dia; buat orang-orang mengikuti apa yang dia katakan, karena dia memiliki wewenang (Ibnu majah : 18) Hadist Shahih

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ، فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ، فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ ؟ قَالَ : هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا

Rasulullah bersabda : Aku mendatangi suatu kaum pada malam diisrakan, perut mereka seperti rumah-rumah, didalamnya  ular-ular yang terlihat dari luar perutnya, maka aku bertanya : Siapa mereka hai Jibril ?, jibril menjawab : Mereka pemakan riba (Ibnu Majah : 2273, Ahmad :8640/8754)

Semoga bermanfaat, dan Allah melindungi dan mengampuni kita dari dosa-dosa. Semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam diri kita agar teguh di dalam ketaatannya…

Amiiin

Share

You may also like...

× Chat via WA
%d blogger menyukai ini: